Inspirasi
IMPIAN SANG PEMBANTU
Tenzing Norgay, barangkali nama yang asing bagi telinga kita. Nama kakek atau nenek kita saja, mungkin kita sudah tidak kenal, apalagi nama asing yang reputasinya juga tidak kita kenal. Ia memang bukan nama tempat, atau istilah, yang sering kali tidak menggedor kepedulian kita. Ia adalah nama orang. Tenzing Norgay, baru akan menjadi bermakna jika kita mengingat Edmund Hillary. Ya, benar! Edmund Hillary adalah orang pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest. Karena keberhasilannya mencapai puncak Everest itulah Kerajaan Inggris memberi gelar kehormatan “Sir”, sehingga namanya menjadi Sir Edmund Hillary. Beberapa waktu yang lalu, ia berpulang.
Lalu, siapakah Tenzing Norgay? Ternyata ia merupakan bagian yang sama pentingnya dengan Sir Edmund Hillary. Tenzing Norgay adalah seorang yang berkebangsaan Nepal, yang pekerjaannya sebagai Serpha, yaitu penunjuk jalan sekaligus membantu para pendaki gunung membawa perlengkapannya.
Sampai kapan pun, Sir Edmund Hillary akan dikenang sebagai orang pertama yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest.
Di balik kesuksesan seorang suami, selalu ada wanita yang berperan sebagai pendukung, penyemangat atau fasilitator. Di balik seorang pencetak gol jitu, selalu ada pemain yang memberikan umpan kepadanya. Di balik keberhasilan seseorang, selalu ada orang lain yang berperan “pengantar”. Demikian pula Tenzing Norgay memiliki peran yang sangat besar bagi keberhasilan Sir Edmund Hillary. Sebagai serpha, Tenzing Norgay menunjukkan jalan sekaligus memikul sebagian beban Sir Edmund Hillary.
Setelah Sir Edmund Hillary kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarainya, untuk mendapatkan pengalaman spektakuler yang dilakoninya. Hanya satu reporter yang melirik Tenzing Norgay dan mewawancarainya. Inilah cuplikannya!
“Bagaimana perasaan Anda menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?” tanya reporter.
“Sangat senang!” komentar Tenzing Norgay singkat.
Reporter itu bertanya lebih detil. “Anda kan seorang serpha! Tentunya posisi Anda berada di depan Edmund Hillary. Bukankah seharusnya Anda menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?”
Dengan polosnya, Tenzing Norgay menjawab, “Ya, benar! Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan Edmund Hillary untuk melangkah di depan saya dan menjadi orang pertama di dunia yang mencapai Mount Everest.”
Reporter itu semakin penasaran. “Mengapa Anda lakukan itu?”
“Karena, itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya… Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN-nya!” jawab Tenzing Norgay dengan lebih tenang.
Itulah sekelumit kisah Tenzing Norgay, gambaran tentang kesederhanaan dari seorang yang sebenarnya berjiwa sangat besar. Ia tidak menjadi iri dengan kebanggaan dan keberhasilan material yang diperoleh Sir Edmund Hillary, sebab impiannya memang bukan menjadi Edmund Hillary. Dalam kesederhanaannya, ia hanya ingin membantu orang lain. Dan itu sudah cukup baginya. Bahwa bantuannya membuat orang lain menjadi sangat berhasil dan terkenal, tetap tidak alasan bagi dia untuk marah, iri, dengki apalagi merusak!
Itulah bantuan yang tulus. Dan atas ketulusannya membantu, maka dalam setiap penampilan di depan umum, dalam berbagai testimoni atau kesaksian yang disampaikan oleh Sir Edmund Hillary, nama pertama yang disebutnya sebagai orang yang paling dihormatinya adalah Tenzing Norgay, seorang serpha yang tetap setia dengan komitmen untuk membantu sesamanya.
Sering kita menyaksikan perilaku yang sangat jauh dari sikap membantu sesama. Bahkan kita sendiri sering sangat fokus kepada diri sendiri dengan berbagai alasan: tuntutan pekerjaan, dikejar tenggat, dsb., padahal hal itu merupakan tindakan yang mengejar kepentingan dan keberhasilan sendiri, tak peduli orang lain terabaikan, bahkan terluka!
Kita memang bukan serpha, namun secara universal, bisakah kita setidaknya memiliki spirit membantu rekan sekerja, sahabat sekomunitas dengan tulus, sebagaimana yang dicontohkan oleh Tenzing Norgay?
Nampaknya, bukan soal bisa atau tidak, melainkan soal mau atau tidak!
Nah, selamat membantu orang lain secara tulus!
(bukan karya saya, diambil dari sebuah milist)