Bryan_ae1

Jalanilah Hidup Ini Dengan Apa Adanya

Archive for the ‘Renungan’ Category

IMPIAN SANG PEMBANTU

Posted by bryanae1 on July 14, 2008

Inspirasi

IMPIAN SANG PEMBANTU

Tenzing Norgay, barangkali nama yang asing bagi telinga kita. Nama kakek atau nenek kita saja, mungkin kita sudah tidak kenal, apalagi nama asing yang reputasinya juga tidak kita kenal. Ia memang bukan nama tempat, atau istilah, yang sering kali tidak menggedor kepedulian kita. Ia adalah nama orang. Tenzing Norgay, baru akan menjadi bermakna jika kita mengingat Edmund Hillary. Ya, benar! Edmund Hillary adalah orang pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest. Karena keberhasilannya mencapai puncak Everest itulah Kerajaan Inggris memberi gelar kehormatan “Sir”, sehingga namanya menjadi Sir Edmund Hillary. Beberapa waktu yang lalu, ia berpulang.

Lalu, siapakah Tenzing Norgay? Ternyata ia merupakan bagian yang sama pentingnya dengan Sir Edmund Hillary. Tenzing Norgay adalah seorang yang berkebangsaan Nepal, yang pekerjaannya sebagai Serpha, yaitu penunjuk jalan sekaligus membantu para pendaki gunung membawa perlengkapannya.

Sampai kapan pun, Sir Edmund Hillary akan dikenang sebagai orang pertama yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest.
Di balik kesuksesan seorang suami, selalu ada wanita yang berperan sebagai pendukung, penyemangat atau fasilitator. Di balik seorang pencetak gol jitu, selalu ada pemain yang memberikan umpan kepadanya. Di balik keberhasilan seseorang, selalu ada orang lain yang berperan “pengantar”. Demikian pula Tenzing Norgay memiliki peran yang sangat besar bagi keberhasilan Sir Edmund Hillary. Sebagai serpha, Tenzing Norgay menunjukkan jalan sekaligus memikul sebagian beban Sir Edmund Hillary.

Setelah Sir Edmund Hillary kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarainya, untuk mendapatkan pengalaman spektakuler yang dilakoninya. Hanya satu reporter yang melirik Tenzing Norgay dan mewawancarainya. Inilah cuplikannya!

“Bagaimana perasaan Anda menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?” tanya reporter.

“Sangat senang!” komentar Tenzing Norgay singkat.
Reporter itu bertanya lebih detil. “Anda kan seorang serpha! Tentunya posisi Anda berada di depan Edmund Hillary. Bukankah seharusnya Anda menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?”
Dengan polosnya, Tenzing Norgay menjawab, “Ya, benar! Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan Edmund Hillary untuk melangkah di depan saya dan menjadi orang pertama di dunia yang mencapai Mount Everest.”
Reporter itu semakin penasaran. “Mengapa Anda lakukan itu?”

“Karena, itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya… Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN-nya!” jawab Tenzing Norgay dengan lebih tenang.

Itulah sekelumit kisah Tenzing Norgay, gambaran tentang kesederhanaan dari seorang yang sebenarnya berjiwa sangat besar. Ia tidak menjadi iri dengan kebanggaan dan keberhasilan material yang diperoleh Sir Edmund Hillary, sebab impiannya memang bukan menjadi Edmund Hillary. Dalam kesederhanaannya, ia hanya ingin membantu orang lain. Dan itu sudah cukup baginya. Bahwa bantuannya membuat orang lain menjadi sangat berhasil dan terkenal, tetap tidak alasan bagi dia untuk marah, iri, dengki apalagi merusak!

Itulah bantuan yang tulus. Dan atas ketulusannya membantu, maka dalam setiap penampilan di depan umum, dalam berbagai testimoni atau kesaksian yang disampaikan oleh Sir Edmund Hillary, nama pertama yang disebutnya sebagai orang yang paling dihormatinya adalah Tenzing Norgay, seorang serpha yang tetap setia dengan komitmen untuk membantu sesamanya.

Sering kita menyaksikan perilaku yang sangat jauh dari sikap membantu sesama. Bahkan kita sendiri sering sangat fokus kepada diri sendiri dengan berbagai alasan: tuntutan pekerjaan, dikejar tenggat, dsb., padahal hal itu merupakan tindakan yang mengejar kepentingan dan keberhasilan sendiri, tak peduli orang lain terabaikan, bahkan terluka!

Kita memang bukan serpha, namun secara universal, bisakah kita setidaknya memiliki spirit membantu rekan sekerja, sahabat sekomunitas dengan tulus, sebagaimana yang dicontohkan oleh Tenzing Norgay?

Nampaknya, bukan soal bisa atau tidak, melainkan soal mau atau tidak!

Nah, selamat membantu orang lain secara tulus!

(bukan karya saya, diambil dari sebuah milist)

Posted in Renungan | 2 Comments »

PAKU DAN PAPAN YANG TERLUKA

Posted by bryanae1 on July 13, 2008

Siao Bao, nama bocah laki-laki yang sebenarnya pintar tapi suka marah-marah. Sebagai anak satus-atunya, perilaku Siao Bao kadang manja dan semaunya. Tentu saja orang tuanya merasa sedih memikirkan perilaku Siao Bao.

‘Seperti kejadian kemarin, saat Siao Bao sedang asyik menonton TV hingga larut malam. Mama memanggilnya, “Siao Bao, tidurlah, hari sudah larut malam!” Siao Bao berteriak dengan ketus, “Tidak mau, saya masih ingin nonton TV!”

“Tapi besok pagi kamu tidak bisa bangun, bisa terlambat masuk sekolah lho!,” mama merayunya. Bukannya menurut, Siao Bao malah menjerit-jerit, “Saya tidak mau tidur! Sana, pergilah!” Sambil menghela nafas, mamanya membahas masalah ini dengan papa, “Papa, Siao Bao makin suka marah-marah, apa yang seharusnya kita perbuat.”

“Ya, kita harus mencari cara agar sifatnya dapat menjadi lebih baik”, kata papa.

Cuaca pagi di hari Minggu ini sungguh cerah, orang tua Siao Bao mengajaknya bermain-main di taman belakang, papa membuatkan ayunan di pohon, tentu saja Siao Bao sangat senang. Sambil memangku Siao Bao duduk di ayunan, papa bertanya, “Siao Bao, mari kita melakukan suatu permainan”. Dengan riang Siao Bao menjawab, “baiklah, permainan apa papa?” Papa pun menjelaskan, “Permainannya adalah setiap kamu marah, maka kita akan tancapkan satu paku di papan, tapi bila dalam sehari, kamu bisa tidak marah, maka kita cabut satu paku”. “Yeah, saya paling senang permainan!”, teriak Siao Bao.

Berturut-turut beberapa hari kemudian, selalu terdengar suara palu dipukul. Betul, itu memang suara paku yang ditancapkan Siao Bao, sambil berhitung, “Hari Ini ada 9 biji….Hari ini ada 8 biji….Hari ini ada 6 biji…..Hari ini hanya ada 5 biji lho…..”

Hingga suatu hari, orang tua Siao Bao mengajaknya duduk di taman, papa berkata, “Eh, Siao Bao, mengapa pakunya makin hari makin sedikit?” Siao Bao bilang, “Karena saya menemukan bahwa setiap kali menancapkan satu paku, membuatku teringat masalah saat saya marah, hati jadi merasa tidak enak, makin dipikir makin marah.”

“Oh, benarkah?”, kata mama. Siao Bao melanjutkan, “Ya, tetapi saat mencabut paku, saya teringat kalau seharian saya tidak marah, hati jadi senang”. Papa tersenyum, “Oh jadi kamu lebih senang mencabut paku”.

“Tentu saja! Bahkan setiap kali memaku paku, saya membayangkan rupa diri saya sendiri yang suka marah”, kata Siao Bao. Sambil melihat ke pagar, papa berkata, “nampaknya paku sudah hampir habis dicabut semua”. Siao Bao menunjuk pagar lebih dekat, “Tapi lubang bekas paku yang tertinggal di sini, sungguh jelek dan tidak enak dilihat”. Papa berkata, “Benar, setiap kali sedang marah, maka ucapan kita seperti paku ini, bisa meninggalkan luka dan kebencian dalam hati orang lain. Meskipun kita telah berulang kali meminta maaf tetapi luka tersebut akan tetap ada.” Mama juga ikut mendekat, “Sebenarnya yang paling penting adalah belajar mengontrol diri kita”. Siao Bao memeluk keduanya, “Iya, sekarang saya mengerti sekarang”.

Perkataan yang emosional membuat orang sedih sedangkan perkataan yang baik akan menghangatkan sanubari. (disadur dari : Cerita anak sekolah Minghui/ntdtv/ing)

Posted in Renungan | Leave a Comment »

IBU (tangan ibu tangan terindah)

Posted by bryanae1 on July 13, 2008

Ibu

(dari sebuah milist)

Ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak
saya untuk berbelanja bersamanya
karena diamembutuhkan sebuah gaun yang baru.
Sayasebenarnya tidak suka pergi berbelanja
bersamadengan orang lain, dan saya bukanlah orang yangsabar, tetapi walaupun demikian kami berangkatjuga ke pusat perbelanjaan tersebut.Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakangaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demigaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hariyang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulaifrustasi.

Akhirnya pada toko terakhir yang kamikunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biruyang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnyaterdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dankarena ketidaksabaran saya, maka untuk kali inisaya ikut masuk dan berdiri bersama ibu sayadalam ruang ganti pakaian, saya melihatbagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dandengan! susah mencoba untuk mengikat talinyaTernyata tangan-tangannya sudah mulaidilumpuhkan oleh penyakit radangsendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya,seketika ketidaksabaran saya digantikan olehsuatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Sayaberbalik pergi dan mencoba menyembunyikan airmata yang keluar tanpa saya sadari.Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, sayakembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkantali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah,dan dia membelinya.Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapikejadian tersebut terukir dan tidak dapatterlupakan dari ingatan saya.

Sepanjang sisahari itu, pikiran saya tetap saja
kembali pada saatberada di dalam ruang ganti pakaiantersebut dan terbayang tangan ibu saya yangsedang berusaha mengikat tali blusnya. Keduatangan yang penuh dengan kasih, yang pernahmenyuapi saya, memandikan saya, memakaikanbaju, membelai dan memeluk saya, danterlebih dari semuanya, berdoa untuk saya,sekarang tangan itu telah menyentuhhati saya dengan cara yang paling membekasdalam hati saya.Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamaribu saya, mengambil tangannya, menciumnya …dan yang membuatnya terkejut,memberitahukannya bahwa bagi saya keduatangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini.
Saya sangat bersyukur bahwa Tuhantelah membuat saya dapat melihat dengan matabaru, betapa bernilai dan berharganya kasihsayang yang penuh pengorbanan dari seorangibu.Saya hanya dapat berdoa bahwa suatuhari kelak tangan saya dan hati saya akanmemiliki keindahannya tersendiri.Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segalaciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satupun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu…

Posted in Renungan | 1 Comment »

Belum Haji Sudah Mabrur

Posted by bryanae1 on July 13, 2008

Belum Haji Sudah Mabrur
23 Nopember 2007
Oleh: Ahmad Tohari

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali, karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun.

Jadilah, Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka, ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal, Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus.

Yu Timah pernah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu, Yu Timah masih bisa menabung di BPR syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi, Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun, setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu, saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
‘’Pak, saya mau mengambil tabungan,’’ kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.
‘’O, tentu bisa. Tapi, ini hari sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila senin?’’
‘’Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.’’
‘’Mau ambil berapa?’’ tanya saya.
‘’Enam ratus ribu, Pak.’’
‘’Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?’’
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
‘’Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.’’

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan, dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal, saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

‘’Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?’’
‘’Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun, sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.’’
‘’Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.’’

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul, karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin, saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Penulis adalah budayawan dan sastrawan.
-> komid.net

Posted in Renungan | Leave a Comment »

Manusia Super di Jembatan Setiabudi

Posted by bryanae1 on July 13, 2008

Siang di bulan February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat.

Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi – Jakarta, dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan

“Terima kasih Oom !”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki – kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka

Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati
mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .

“Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas
mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

“Maaf, nggak ada kembaliannya. .ada uang pas nggak mbak ?” mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

“Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka, saya sedikit
terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

“Nggak punya, tukas saya!” lalu tak lama siwanita berkata “ambil
saja kembaliannya, dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang” sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !” Akhirnya uang itu diterima
si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “Om, bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !”.

“eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !” saya kasih uang itu
ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ..sebentar”

“Nggak apa apa , itu buat kalian” Lanjut saya
“jangan ..jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga” anak itu
bersikeras
” Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung
jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

” Ini deh om , kalau kelamaan , maaf ..” ia memberi saya delapan pack tissue ” Buat apa ?” saya terbengong

“Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu “
walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di sana, sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

“Terima kasih Om , !”..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup terdengar percakapan ” Duit mbak tadi gimana ..? ” suara kecil yang lain menyahut “lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…” percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur
mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT

Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun
berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang
lain.

“Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang
memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak”

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
untuk lebih SUPER

-> komid.net

Posted in Renungan | 1 Comment »

Pelajaran Syukur dari Dua orang Pengamen

Posted by bryanae1 on July 13, 2008

Kamis minggu lalu, Sore itu tepatnya di bilangan Uki, waktu telah menunjukan
senja kala, matahari telah terbenam, dan sang bulan mulai perlahan
menampakan wajahnya yang cantik. saya kala itu baru turun dari bus Jemputan yang mengantar saya dari kantor di bilangan cikarang, biasa saya terlelap dalam bus tersebut untuk mempersiapkan energi untuk melanjutkan perjalanan Pulang.

hari itu saya sedang kesal dengan beberapa keinginan yang belum tercapai,
dan dalam hati sedang mempertanyakan mengapa Allah memberi saya ujian
seperti ini, saya sedang gelisah hati. dan saat turun dari jemputan pun
tiba. Waktu menunjukan sekitara Pukul 17.20 menit. Ditengah ramai jalanan
ibukota, saya mencoba mampir ke tukang Gorengan, karena saya sedang ingin
makan gorengan, khususnya penjual “Combro” karena saya menyukai pangan
tersebut karena terbuat dari singkong yang diberi oncom, wah buat lidah saya
rasanya luar biasa sekali. panganan tersebut sengaja saya persiapkan untuk
berbuka puasa. Karena saya saat itu sedang puasa senin-kamis.

Setalah membeli combro dan sebotol teh manis dalam botol atas merek
tertentu, saya masukan bekal tersebut ke dalam tas saya. tidak jauh beberapa meter dari tempat saya membeli combro tersebut saya melihat dua orang anak kecil yang sedang diam dan duduk dipinggiran terotoar di bilang uki tersebut.

Saya keluarkan sebuah uang lembar ribuan, karena tangan saya reflek untuk
membiasakan diri memberi, walaupun bukanlah sesuatu yang berarti. tetapi,
seorang anak yang lebih tua dengan postur yang lebih besar menolak pembarian saya tersebut. “Maaf Oom kami bukan peminta-minta” tolak dari anak tersebut.Ayo … ambil saja …” kali kuperbaiki senyumku, juga uluran
tangan yang lebih ringan. tetapi tetap dia menolaknya.

“lalu kenapa kamu ada disini dik” tanyaku “Kami memang orang susah oom, tapi ibu kami meminta kami bekerja bukan menjadi seorang peminta-minta” jawab anak tersebut. Saya pun menghargai pendapat anak tersebut, saya juga tidak bermaksud melatihnya menjadi peminta-minta, lalu saya alihkan tatapan kepada anak yang kecil. Matanya yang sayu namun tajam itu seperti menusuk hati ini dan memaku kuat kaki ini untuk terus melangkah.

Mata anak tersebut menerawang, seperti menahan sesuatu sepertinya rasa yang amat sangat. rasa yang sampai sore ini ditahannya. Dan kini, dari matanya, juga gerak lemah tubuhnya, aku bisa menangkap rasa yang tertahan itu.

“Dik, adiknya kenapa sakit ya?” tanya saya kepada anak tersebut. “Tidak om,
kami belum makan dari dua hari lalu” jawab sang kakak tersebut. “memang kamu tidak punya orang tua dik” tanyaku menyelidik. “Keluarga kami baru saja kena gusur om” jawabnya. “Astagfirullahalazi m” gumamku dalam hati berat nian derita yang diterima anak ini dan keluarganya.

“lalu kamu ngapain disini, kalau tidak usaha, kan tidak punya uang untuk
makan” tanyaku. “saya sudah mencoba mengamen om, tapi hanya mendapat Rp.1000 rupiah” sambil menunjukan uang tersebut kepadaku. “itukan cukup untuk beli gorengan dik” jawab ku menyelidik. “tidak om uang ini untuk ibu kami yang sakit parah” ujarnya lagi. “tadinya uang saya berjumlah 7000 , tapi barusan kami di palak preman om, uang kami diambil.

Kejamnya hidup dijakarta, anak sekecil ini pun jadi korban. kasihan sekali
pkirku, dan aku yang selama ini mencoba melakukan puasa pun ketika berbuka
pasti telah tersedia makanan, setidaknya hanya combro yang aku beli tadi,
tapi kedua anak ini sungguh berat bebanya. tak terasa air mata ini menetes
tanpa aku perintahkan.

“yuk kita mampir di warung nasi itu, kita beli nasi untuk kamu, adik kamu
dan ibu kamu” aku mengajak kedua anak tersebut ke sebuah warung nasi, saya mencoba mengendong sang adik yang terlihat sangat lapar. Di warung nasi keduanya terlihat canggung dalam memilih makanan. “sudah ambil saja, yang kalian inginkan ujarku saat itu”

Betapa bahagia melihat kedua anak tersebut memakan makanannya, tiba-tiba
teringat di rumah terkadang makanan selalu berlebihan, dan terbuang ke
tempat sampah, tapi ternyata banyak orang yang tidak mendapat makan.

Setelah itu, anak-anak tersebut makan, aku meminta untuk di bungkuskan nasi, untuk orang tuanya dan nanti makan malamnya. “om terimakasih ya, tapi kata ibu kami harus bekerja untuk mendapatkan sesuatu” anak tersebut berkeras untuk menawarkan jasa. “Oke, kamu kan bisa mennyanyi ujar saya, sekarang saya minta untuk di nyanyikan saja” pinta saya.

Dan saya melihat kedua anak itu menyanyi dengan bahagia, senangnya bisa
membuat orang lain bahagia. “alhamdulillah” ucapku dalam hati. Karena Adzan
mahgrib sudah memanggil kulanjutkan langkah kakiku, dan aku pamit kepada
kedua sahabat kecil ku itu sambil kutitipkan uang untuk berobat ibunya. Dan
senangnya bisa melihat Senyum diwajah mereka memancarkan rasa syukur yang tak tergambarkan, Tanpa lupa mengucapkan terima kasih, ia menyambut hangat tanganku.

Dalam hati menuju mesjid terdekat aku berdoa “Ya Allah, alangkah bijak-Nya
Engkau menegur hambamu ini. Aku malu¡Ä masih ada sederet keluh kesah lagi
yang bersarang di hatiku dan Engkau Maha Tahu waktu yang tepat untuk
mengingatkanku. Ampuni hamba ya Allah. Segala keterbatasanku mengharapkan ke-Maha Sempurnaan-Mu. Muliakan mereka dengan keberadaannya. dan lindungilah mereka ya Allah. Aamiin.”

Ternyata aku masih orang yang beruntung dengan segala yang aku miliki, walau kadang hati ini masih sering tidak bisa melihat keberuntungan diri atas
rahmat yang diberikan Allah. Semoga setiap kejadian bisa membawa hikmah
kepada kita semua. Allah sangat menyayangi kita dan kasih sayang itu bisa
berwujud apa saja, tergantung kita untuk mengakuinya. Wallaahu a’alam.

-> komid.net

Posted in Renungan | Leave a Comment »

PELAJARAN BERHARGA DARI GURU DAN MURID

Posted by bryanae1 on July 13, 2008

PELAJARAN BERHARGA DARI GURU DAN MURID

Namanya Ny . Thompson. Ia berdiri di depan ruang kelas 5 pada hari pertama tahun pengajaran, dan berbohong kepada murid-muridnya. Seperti kebanyakan pengajar, ia memandang ke seluruh murid dan berkata bahwa ia memperhatikan seluruh murid dengan adil. Tetapi hal itu tidak mungkin, karena di barisan depan, ada seorang anak yang duduk dengan menggelesot namanya Teddy Stoddard.

Ny. Thompson sudah mengawasi Teddy setahun sebelumnya dan ia memperhatikan bahwa dia tidak bisa bermain dengan baik dengan anak-anak yang lain karena bajunya morat marit dan terlihat selalu perlu untuk dimandikan. Dan Teddy bisa jadi tidak suka. Itu semua mendapat penilaian, dimana Ny.Thompson kenyataannya akan memberikan tanda khusus di laporan Teddy dengan tinta merah besar, membuat X tebal dan memberi tanda F besar di atas kertas laporan Teddy.

Di sekolah tempat Ny.Thompson mengajar, ia diminta untuk melihat ulang catatan murid-muridnya di tahun sebelumnya, dan ia membiarkan cacatan Teddy di giliran terakhir. Saat membaca catatan Teddy ia terkejut.
Guru kelas satu Teddy menulis,Teddy adalah anak yang cemerlang dan ceria. Ia mengerjakan perkerjaannya dengan rapi dan memiliki hal-hal yang baik.Ia membawa kegembiraan bagi sekitarnya.
Guru kelas duanya menulis, Teddy adalah murid yang sempurna, sangat disukai oleh seluruh temannya, tetapi ia terganggu karena ibunya sakit stroke dan untuk tinggal di rumah adalah suatu perjuangan bagi Teddy.
Guru kelas tiganya menulis, Ia mendengar kematian ibunya. Ia berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetapi ayahnya tidak menunjukkan ketertarikannya dan kehidupan di rumah akan segera mempengaruhinya jika tidak ada langkah-langkah yang dilakukan.
Guru kelas empat Teddy menulis, Teddy menjadi mundur dan tidak tertarik ke sekolah. Ia tidak punya banyak teman dan terkadang tertidur di kelas.

Setelah itu, Ny. Thompson menyadari masalahnya dan dia malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa tidak enak ketika murid-muridnya membawa hadiah natal, dibungkus dengan pita-pita yang indah dan kertas yang menyala, kecuali pemberian Teddy. Hadiah dari Teddy kumal bentuknya dan dibungkus dengan kertas coklat yang diambil dari tas belanja.

Ny.Thompson dengan terharu membuka kado Tedy ditengah-tengah kado yang lain. Anak-anak mulai tertawa saat ia menemukan gelang batu dimana beberapa batunya hilang, dan sebuah botol yang berisi parfum setengahnya.
Tetapi ia menyuruh murid-muridnya diam dan menyatakan bahwa gelang pemberian Teddy sangat indah, serta mengoleskan parfum di pergelangan tangannya.

Setelah sekolah usai, Teddy Stoddard tetap tinggal, menunggu cukup lama untuk mengatakan, Ny. Thompson, hari ini bau wangi anda seperti ibu saya. Setelah murid-muridnya pergi, Ny.Thompson menangis hampir selama satu jam. Hari berikutnya Ny.Thompson berhenti untuk mengajar membaca, menulis dan aritmatika. Sebagai gantinya ia mulai mengajar anak didiknya.
Ny. Thompson memberi perhatian khusus kapada Teddy. Selama bekerja dengannya, pikiran Teddy mulai hidup. Semakin ia mendorong Teddy, semakin cepat Teddy memberikan tanggapan.
Di akhir tahun, Teddy menjadi anak terpandai di kelas, akan tetapi Ny. Thompson jadi berbohong dengan mengatakan bahwa ia akan memperhatikan murid-muridnya secara adil, karena Teddy telah menjadi murid kesayangannya.

Satu tahun berlalu, Ny. Thompson menemukan sebuah surat dibawah pintu, dari Teddy, yang mengatakan bahwa ia adalah guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Enam tahun berlalu sebelum ia menerima surat yang lain dari Teddy. Ia menulis sudah menamatkan SMU, ranking tiga di kelas, dan Ny.Thompson tetap guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Sumber : Komid.net
Empat tahun berikutnya, ia menerima surat yang lain, mengatakan bahwa saat orang memikirkan banyak hal, ia tetap tinggal di sekolah dan mempertahankannya, dan segera lulus dari akademi dengan penghargaan tertinggi. Dia meyakinkan Ny. Thompson, bahwa dia tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Kemudian empat tahun berlalu dan surat yang lain datang lagi.Saat ini dia menjelaskan setelah menyelesaikan gelar sarjananya, dia memutuskan untuk melanjutkan sedikit lagi. Surat itu menjelaskan bahwa Ny. Thompson tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya. Tetapi namanya telah sedikit lebih panjang surat ditandatangani oleh Theodore F. Stoddard, MD.

Kisahnya tidak berakhir disini. Masih ada surat lagi pada musin semi itu. Teddy berkata bahwa ia bertemu dengan seorang gadis dan merencanakan untuk menikah. Ia mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu dan dia berharap Ny. Thompson bersedia duduk di kursi yang biasanya disediakan untuk ibu pengantin. Tentu saja Ny. Thompson bersedia.

Dan coba tebak apa berikutnya? Ny. Thompson mengenakan gelang batu dimana beberapa batunya telah hilang. Dan ia memastikan memakai parfum yang diingat Teddy dipakai ibunya pada Natal sebelumnya bersama-sama. Mereka berpelukan, dan Dr. Stoddard berbisik di telinga Ny. Thompson, Terima kasih Ny. Thompson, anda mempercayai saya. Terima kasih karena sudah membuat saya merasa begitu penting dan memperlihatkan bahwa saya dapat membuat perubahan.

Ny. Thompson dengan air mata berlinang, balik berbisik. Ia berkata,Teddy, semua yang kamu katakan keliru. Kamu adalah orang yang telah mengajari bahwa aku dapat membuat perubahan. Aku sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana caranya mengajar sampai bertemu denganmu.

Hangatkan hati seseorang hari ini Tolong ingatlah bahwa kemana pun kamu pergi, apa pun yang kamu lakukan, kamu akan punya kesempatan untuk menyentuh atau merubah diri seseorang.
Cobalah lakukan hal itu dengan cara yang positif. Teman adalah malaikat yang mengangkat kita ke atas kaki kita, saat sayap kita bermasalah untuk mengingat bagaimana caranya terbang.

Posted in Renungan | Leave a Comment »